Rabu, 05 Desember 2012

GLOBALISASI TEKNOLOGI DALAM PESANTREN


Dunia globalisasi adalah dunia dimana semua orang sudah mengalami masa yang modern. Masa ini sangat rentan sekali dengan adanya teknologi yang berkembang dan bahkan maju saat ini. Menurut kamus bahasa indonesia, bahwasanya Globalisasi merupakan fenomena yang menjadikan dunia mengecil dari segi perhubungan manusia. Hal ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi yang sangat cepat. Sedangakan menurut  IMF, WORD ECONOMIC OUT LOOK, MEI 1997. Globalisasi berarti meningkatknya saling ketergantungan ekonomi antara negara-negara di dunia yang ditandai oleh meningkatnya dan beragamnya volume transaksi barang dan jasa lintas negara dan penyebaran tekhnologi yang meluas dan cepat. Dari kedua pengertian tersebut, dunia globalisasi sangat berpengaruh bagi perkembangan dan kemajuan dunia. Akan tetapi apabila dilihat dari ranah pesantren, globalisasi. Khususnya globalisasi teknologi, berpengaruh besar terhadap eksistensi pesantren itu sendiri. Kenapa saya mengatakan seperti itu? Karena dalam dunia pesantren teknologi yang ada sekarang dapat mempengaruhi para santri baik dari segi karakter mereka maupun dari segi aktivitas mereka setiap hari di pesantren. Tapi, tidak semuanya teknologi yang masuk di pesantren merubah eksistensi pesantren. Pesantren selama ini dikenal berhasil membangun karakter, akhlak, dan watak melalui tradisi pendidikan yang dikembangkannya. Hanya saja pesantren selama ini masih menyandang kekurangan, yaitu dalam memperkaya diri di bidang teknologi. Bahkan hampir-hampir pesantren tidak diperkenalkan dengan pengetahuan itu. Padahal teknologi di zaman modern sekarang ini tidak akan mungkin ditinggalkan. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan ini. Untuk itu, pesantren mau tidak mau harus mengenal teknologi, walaupun pesantren tetap mempertahankan tradisi yang dahulu.
            Era globalisasi yang sangat pesat dan menggemparkan membawa tantangan serius bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan pesantren. Dunia pesantren yang dikenal dengan adat tradisionalnya yang sangat kental, kini harus membiarkan perlahan beradaptasi dengan tradisi-tardisi modern. Akan tetapi, pesantren tidak harus membiarkan begitu saja tanpa adanya penyaringan terlebih dahulu. Inilah yang disebut dengan pesantren modern, pesantren ini berusaha mengejar ketertinggalan dan mengubah diri tidak hanya sebagai penonton pasif, tapi juga aktor kreatif yang ikut berperan aktif dalam proses kompetisi ketat globalisasi. Namun, dalam hal semacam itu tentu ada batasan-batasan terhadap penggunaannya, agar santri-santri yang ada di dalamnya tidak menggunakan secara berlebihan, dan bisa mengatur waktunya kapan menggunakan teknologi dan kapan waktunya melakukan aktivitas pesantren.
            Dengan masuknya teknologi kedalam pesantren, menjadikan pesantren harus siap menghadapi permasalahan yang ditimbulkan oleh teknologi itu sendiri. Mencermati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini dan mendatang disertai dengan perkembangan kebudayaan, maka pendidikan pesantren tidak harus mengesampingkan pendidikan teknologi informasi (TI), terutama dalam menumbuhkan Islamic technological-attitude (sikap berteknologi secara Islami) dan technological-quotient (kecerdasan berteknologi) sehingga santri memiliki motivasi, inisiatif dan kreativitas untuk memahami teknologi. Untuk itu, bila seseorang mengatakan bahwa teknologi yang masuk kedalam pesantren akan menghancurkan nilai-nilai pesantren yang sudah di tanamkan didalamnya. Kenyataan demikian, tidaklah benar. Karena dalam pesantren sendiri masih menanamkan nilai-nilai tradisioanal yang merupakan ciri khas dunia pesantren itu sendiri. Seperti yang saya ketahui di pondok pesantren Al-munawwir komplek R2, pesantren ini merupakan pesantren modern yang masih menanamkan nilai-nilai tradisionalnya, walaupun didalamnya sudah menerapkan pendidikan modern. Contonhya, dalam mata pelajaran yang diberikan pada setiap hari minggu adalah bahasa arab dan bahasa ingris, yang merupakan tambahan, dari semula hanya belajar kitab-kitab kuning atau kitab-kitab gundul saja atau kitab-kitab klasik.
Menurut pendapat saya,  pesantren tidak harus selalu stagnan tanpa adanya a change. Pesantren harus mengalami suatu perubahan untuk memajukan pesantren itu sendiri. Karena tanpa adanya perubahan suatu lembaga takkan bisa maju. Berdasarkan literatur yang saya baca, suatu negara atau lembaga dikatakan maju karena adanya teknologi yang digunakannya. Oleh karena itu, pesantren perlu adanya perubahan dari yang tradisional menuju kepada yang modern dengan menerima adanya teknologi dalam pesantren. Maka, perubahan itu sangat penting bagi suatu lembaga, terutama lembaga pesantren. Tentunya, perubahan itu mengarah kepada hal-hal positif yang mampu meningkatkan mutu pesantren dan juga mampu menghasilkan output-output yang tidak hanya memiliki kemampuan SQ saja, tapi juga memilki kemampuan IQ dan EQ. Sehingga menjadi santri yang profesional dan siap untuk menghadapi tantangan dunia globalisasi.

Saya berharap bagi dunia pesantren dimanapun berada, agar bisa menyeimbangkan antara teknologi yang masuk dalam pesantren dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam pesantren, sehingga mampu membentuk santri-santri yang kreatif, inovatif dan mampu meningkatkan motivasi santri-santrinya. Wallahu a’lam bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar