Dunia
globalisasi adalah dunia dimana semua orang sudah mengalami masa yang modern. Masa
ini sangat rentan sekali dengan adanya teknologi yang berkembang dan bahkan
maju saat ini. Menurut kamus bahasa indonesia, bahwasanya Globalisasi merupakan
fenomena yang menjadikan dunia mengecil dari segi perhubungan manusia. Hal ini
dimungkinkan karena perkembangan teknologi yang sangat cepat. Sedangakan
menurut IMF, WORD ECONOMIC OUT LOOK, MEI
1997. Globalisasi berarti meningkatknya saling ketergantungan ekonomi antara
negara-negara di dunia yang ditandai oleh meningkatnya dan beragamnya volume
transaksi barang dan jasa lintas negara dan penyebaran tekhnologi yang meluas
dan cepat. Dari kedua pengertian tersebut, dunia globalisasi sangat berpengaruh
bagi perkembangan dan kemajuan dunia. Akan tetapi apabila dilihat dari ranah
pesantren, globalisasi. Khususnya globalisasi teknologi, berpengaruh besar
terhadap eksistensi pesantren itu sendiri. Kenapa saya mengatakan seperti itu?
Karena dalam dunia pesantren teknologi yang ada sekarang dapat mempengaruhi
para santri baik dari segi karakter mereka maupun dari segi aktivitas mereka
setiap hari di pesantren. Tapi, tidak semuanya teknologi yang masuk di
pesantren merubah eksistensi pesantren. Pesantren selama ini dikenal berhasil
membangun karakter, akhlak, dan watak melalui tradisi pendidikan yang
dikembangkannya. Hanya saja pesantren selama ini masih menyandang kekurangan,
yaitu dalam memperkaya diri di bidang teknologi. Bahkan hampir-hampir pesantren
tidak diperkenalkan dengan pengetahuan itu. Padahal teknologi di zaman modern
sekarang ini tidak akan mungkin ditinggalkan. Teknologi sudah menjadi bagian
dari kehidupan ini. Untuk itu, pesantren mau tidak mau harus mengenal
teknologi, walaupun pesantren tetap mempertahankan tradisi yang dahulu.
Era globalisasi yang sangat pesat
dan menggemparkan membawa tantangan serius bagi dunia pendidikan, khususnya
pendidikan pesantren. Dunia pesantren yang dikenal dengan adat tradisionalnya
yang sangat kental, kini harus membiarkan perlahan beradaptasi dengan
tradisi-tardisi modern. Akan tetapi, pesantren tidak harus membiarkan begitu
saja tanpa adanya penyaringan terlebih dahulu. Inilah yang disebut dengan
pesantren modern, pesantren ini berusaha mengejar ketertinggalan dan mengubah
diri tidak hanya sebagai penonton pasif, tapi juga aktor kreatif yang ikut
berperan aktif dalam proses kompetisi ketat globalisasi. Namun, dalam hal
semacam itu tentu ada batasan-batasan terhadap penggunaannya, agar santri-santri
yang ada di dalamnya tidak menggunakan secara berlebihan, dan bisa mengatur
waktunya kapan menggunakan teknologi dan kapan waktunya melakukan aktivitas
pesantren.
Dengan masuknya teknologi kedalam
pesantren, menjadikan pesantren harus siap menghadapi permasalahan yang
ditimbulkan oleh teknologi itu sendiri. Mencermati perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi pada masa kini dan mendatang disertai dengan
perkembangan kebudayaan, maka pendidikan pesantren tidak harus mengesampingkan
pendidikan teknologi informasi (TI), terutama dalam menumbuhkan Islamic
technological-attitude (sikap berteknologi secara Islami) dan technological-quotient
(kecerdasan berteknologi) sehingga santri memiliki motivasi, inisiatif dan
kreativitas untuk memahami teknologi. Untuk itu, bila seseorang mengatakan
bahwa teknologi yang masuk kedalam pesantren akan menghancurkan nilai-nilai
pesantren yang sudah di tanamkan didalamnya. Kenyataan demikian, tidaklah
benar. Karena dalam pesantren sendiri masih menanamkan nilai-nilai tradisioanal
yang merupakan ciri khas dunia pesantren itu sendiri. Seperti yang saya ketahui
di pondok pesantren Al-munawwir komplek R2, pesantren ini merupakan pesantren
modern yang masih menanamkan nilai-nilai tradisionalnya, walaupun didalamnya
sudah menerapkan pendidikan modern. Contonhya, dalam mata pelajaran yang
diberikan pada setiap hari minggu adalah bahasa arab dan bahasa ingris, yang
merupakan tambahan, dari semula hanya belajar kitab-kitab kuning atau
kitab-kitab gundul saja atau kitab-kitab klasik.
Menurut
pendapat saya, pesantren tidak harus
selalu stagnan tanpa adanya a change. Pesantren harus mengalami suatu
perubahan untuk memajukan pesantren itu sendiri. Karena tanpa adanya perubahan
suatu lembaga takkan bisa maju. Berdasarkan literatur yang saya baca, suatu
negara atau lembaga dikatakan maju karena adanya teknologi yang digunakannya.
Oleh karena itu, pesantren perlu adanya perubahan dari yang tradisional menuju
kepada yang modern dengan menerima adanya teknologi dalam pesantren. Maka,
perubahan itu sangat penting bagi suatu lembaga, terutama lembaga pesantren.
Tentunya, perubahan itu mengarah kepada hal-hal positif yang mampu meningkatkan
mutu pesantren dan juga mampu menghasilkan output-output yang tidak hanya
memiliki kemampuan SQ saja, tapi juga memilki kemampuan IQ dan EQ. Sehingga
menjadi santri yang profesional dan siap untuk menghadapi tantangan dunia
globalisasi.
Saya
berharap bagi dunia pesantren dimanapun berada, agar bisa menyeimbangkan antara
teknologi yang masuk dalam pesantren dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam
pesantren, sehingga mampu membentuk santri-santri yang kreatif, inovatif dan
mampu meningkatkan motivasi santri-santrinya. Wallahu a’lam bisshowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar