Creativepreunership
“Menyulap Limbah
Menjadi Uang”
Tanggal 09 juli tahun 2011 diadakan seminar yang bertajuk “menyulap limbah
menjadi uang” yang sangat menggugah para peserta yang mendengarkan tentang
pemaparan Bapak Hartono mengenai bagaimana limbah atau sampah disulap menjadi
sebuah uang. Beliau adalah seorang
anggota LSM Lestari Home Industri Tas (Limbah) yang memang khusus menangani
persoalan-persoalan limbah untuk dijadikan
sebuah produk yang layak pakai.
Pada tahun 2004 beliau mulai serius
menangani persoalan-persoalan sampah (limbah),
karena beliau berpandangan daripada sampah semakin hari semakin banyak lebih
baik sampah diolah menjadi sebuah barang yang penuh dengan kreasi-kreasi yang
creative. Seperti sampah (limbah) plastik, limbah plastik ini bisa
di jadikan berbagai macam pernak-pernik seperti tas, dompet, bahkan banyak lagi
yang lainnya. Tidak hanya sampah plastik, sampah kertas, sampah kaleng, sampah
botol juga bisa di sulap menjadi sebuah barang layak pakai yang akan
menghasilkan uang.
Pak
Hartono mengatakan bahwa “semua orang di dunia ini menghasilakn sampah mulai
dari rakyat kecil hingga pejabatpun semuanya menghasilkan sampah dari
barang-barang yang dibeli baik di toko maupun di warung-warung kecil seperti
bungkus nasi, bungkus camelan dan sebagainya.” Selama ini kita cenderung
memaknai sampah adalah negative karena menurut pandangan kita apalagi mahasiswa
sekarang ini menganggap sampah tidaklah berguna, namun kalo kita berfikir pada
creativepreunership sungguh betapa berartinya sampah tersebut. Sampah yang
selama ini dianggap remeh oleh masyarakat apalagi mahasiswa, ternyata sangat
bermanfaat apabila masyarakat mampu mengolah menjadi barang layak pakai. Dengan
hal itu masyarakat tidak perlu susah payah dalam mencari uang, bahkan tidak
perlu susah-susah mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya masing-masing.
Dalam
menangani masalah sampah, banyak masyarakat yang cenderung menangani dengan
cara membakar, menimbun, membuang di sungai, atau di pekarangan atau tanah
kosong, dan ada juga yang membuang sampah di tempat sampah, di pinggir jalan, dan
lain-lain. Padahal penanganan yang seperti itu adalah penanganan yang dapat
menimbulkan kerugian dan kerusakan. Menurut pandangan beliau ada enam cara
dalam menangani sampah, namun beliau tidak menyebutkan point-pointnya.
Berdasarkan pengamatan yang beliau
ketahui mengenai penanganan sampah melalui dibakar akan menjadikan globlal
warming, demikian juga kalo ditimbun akan berpengaruh pada sumber-sumber air
tanah, sedangkan dibuang di sungai akan menyebabkan
air sungai menjadi kotor dan akan menyebabkan banjir. Hal
yang seperti itu harus ada kesadaran dari diri masyarakat agar tidak terjadi
hal-hal yang dapat merugikan masyarakat itu sendiri. Karena apabila hal itu terjadi, maka akan mengakibatkan kerusakan yang
fatal bahkan kerugian yang banyak. Dan akibatnya akan terjadi kemiskinan yang
secara langsung kita tidak menyadarinya.
Pada tahun 2005 LSM mengatakan bahwa
sampah harus dikelola dengan cara memilah sampah, yaitu antara sampah organik
dan sampah anorganik. LSM memilah sampah dengan empat kategori sampah
diantaranya:
- Sampah
layak jual
Yaitu sampah
tanpa diolah masih laku untuk dijual.
- Sampah
layak kompos
Yaitu sampah yang bisa diolah menjadi pupuk kompos.
- Sampah
layak kreasi
Yaitu sampah yang diolah menjadi barang atau
produk-produk kreatif sehingga layak dijual.
- Sampah
layak buang
Yaitu sampah yang tidak ada nilai jualnya dan tidak
bisa dijadikan pupuk kompos.
Beliau
memaparkan bahwa TPA (tempat pembuangan akhir) Piyungan yang ada di Yogyakarta
akan berakhir masa berlakunya pada tahun 2012, pemerintah kebingungan mencari
lahan baru untuk dijadikan TPA tersebut, di Pacitan juga TPAnya sudah penuh, pemerintah
merasa bingung mencari lahan baru untuk dijadikan tempat terakhir pembuangan
sampah, karena sudah beberapa tempat yang di survey tidak ada masyarakat yang
mau lahannya untuk di jadikan tempat pembuangan sampah. Namun pemerintah tidak
harus susah payah dalam menangani hal tersebut karena ada LSM yang akan menanganinya
dengan cara memilah-milah sampah dengan empat kategori yang di sebutkan di
atas.
Selanjutnya,
kalo semua empat kategori pemilahan sampah tadi berjalan dengan lancar maka
sampah yang dibuang hanya 25% nya saja, jadi kita sudah ikut serta menyelamatkan
dunia dari bahaya-bahaya yang merugikan masyarakat. Empat ktegori pemilahan
sampah itu sudah dirumuskan menjadi sebuah modul dan sudah diterapakan keberbagai
tempat sejak tahun 2007. Namun kebanyakan masyarakat tidak pernah
berfikir bahwa hal yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat, dengan pemanfaatan
limbah tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga orang-orang yang
pengangguran dapat bekerja walaupun bukan pekerja
tetap.
Diharapkan masyarakat mampu mengelola sampah sesuai dengan kategori yang
telah disebutkan di atas. Sehingga masyarakat mampu membuka lapangan pekerjaan
dan setidaknya mengurangi sedikit pengangguran, karena di indonesia banyak
sekali pengangguran disebabkan minimnya lapangan pekerjaan.
Semoga
dengan adanya pemanfaatan limbah ini dunia dapat terselamatkan dari berbagai
bahaya yang dapat merenggut nyawa masyarakat dunia. Amiem-amien ya robbal
‘alamien.
hm.. bgus neee... bisa juga sosiopreunership hehe... nambah ide, buat aja sekolah sampah hehe... spp dengan sampah.. dari sampah bisa membiayai skolah dan sterusnya hehe
BalasHapushemmm sekalian aja buka lapangan pekerjaan heheh
Hapus