Kamis, 13 Desember 2012

Menyulap Limbah Menjadi Uang


Creativepreunership
“Menyulap Limbah Menjadi Uang”

            Tanggal 09 juli tahun 2011 diadakan seminar yang bertajuk “menyulap limbah menjadi uang” yang sangat menggugah para peserta yang mendengarkan tentang pemaparan Bapak Hartono mengenai bagaimana limbah atau sampah disulap menjadi sebuah uang.  Beliau adalah seorang anggota LSM Lestari Home Industri Tas (Limbah) yang memang khusus menangani persoalan-persoalan limbah untuk dijadikan sebuah produk yang layak pakai.

            Pada tahun 2004 beliau mulai serius menangani persoalan-persoalan sampah (limbah), karena beliau berpandangan daripada sampah semakin hari semakin banyak lebih baik sampah diolah menjadi sebuah barang yang penuh dengan kreasi-kreasi yang creative. Seperti sampah (limbah) plastik, limbah plastik ini bisa di jadikan berbagai macam pernak-pernik seperti tas, dompet, bahkan banyak lagi yang lainnya. Tidak hanya sampah plastik, sampah kertas, sampah kaleng, sampah botol juga bisa di sulap menjadi sebuah barang layak pakai yang akan menghasilkan uang. 

            Pak Hartono mengatakan bahwa “semua orang di dunia ini menghasilakn sampah mulai dari rakyat kecil hingga pejabatpun semuanya menghasilkan sampah dari barang-barang yang dibeli baik di toko maupun di warung-warung kecil seperti bungkus nasi, bungkus camelan dan sebagainya.” Selama ini kita cenderung memaknai sampah adalah negative karena menurut pandangan kita apalagi mahasiswa sekarang ini menganggap sampah tidaklah berguna, namun kalo kita berfikir pada creativepreunership sungguh betapa berartinya sampah tersebut. Sampah yang selama ini dianggap remeh oleh masyarakat apalagi mahasiswa, ternyata sangat bermanfaat apabila masyarakat mampu mengolah menjadi barang layak pakai. Dengan hal itu masyarakat tidak perlu susah payah dalam mencari uang, bahkan tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya masing-masing.

            Dalam menangani masalah sampah, banyak masyarakat yang cenderung menangani dengan cara membakar, menimbun, membuang di sungai, atau di pekarangan atau tanah kosong, dan ada juga yang membuang sampah di tempat sampah, di pinggir jalan, dan lain-lain. Padahal penanganan yang seperti itu adalah penanganan yang dapat menimbulkan kerugian dan kerusakan. Menurut pandangan beliau ada enam cara dalam menangani sampah, namun beliau tidak menyebutkan point-pointnya.

            Berdasarkan pengamatan yang beliau ketahui mengenai penanganan sampah melalui dibakar akan menjadikan globlal warming, demikian juga kalo ditimbun akan berpengaruh pada sumber-sumber air tanah, sedangkan dibuang di sungai akan menyebabkan air sungai menjadi kotor dan akan menyebabkan banjir. Hal yang seperti itu harus ada kesadaran dari diri masyarakat agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan masyarakat itu sendiri. Karena apabila hal itu terjadi, maka akan mengakibatkan kerusakan yang fatal bahkan kerugian yang banyak. Dan akibatnya akan terjadi kemiskinan yang secara langsung kita tidak menyadarinya.

            Pada tahun 2005 LSM mengatakan bahwa sampah harus dikelola dengan cara memilah sampah, yaitu antara sampah organik dan sampah anorganik. LSM memilah sampah dengan empat kategori sampah diantaranya:

  1. Sampah layak jual
Yaitu sampah tanpa diolah masih laku untuk dijual.
  1. Sampah layak kompos
Yaitu sampah yang bisa diolah menjadi pupuk kompos.
  1. Sampah layak kreasi
Yaitu sampah yang diolah menjadi barang atau produk-produk kreatif sehingga layak dijual.
  1. Sampah layak buang
Yaitu sampah yang tidak ada nilai jualnya dan tidak bisa dijadikan pupuk kompos.

            Beliau memaparkan bahwa TPA (tempat pembuangan akhir) Piyungan yang ada di Yogyakarta akan berakhir masa berlakunya pada tahun 2012, pemerintah kebingungan mencari lahan baru untuk dijadikan TPA tersebut, di Pacitan juga TPAnya sudah penuh, pemerintah merasa bingung mencari lahan baru untuk dijadikan tempat terakhir pembuangan sampah, karena sudah beberapa tempat yang di survey tidak ada masyarakat yang mau lahannya untuk di jadikan tempat pembuangan sampah. Namun pemerintah tidak harus susah payah dalam menangani hal tersebut karena ada LSM yang akan menanganinya dengan cara memilah-milah sampah dengan empat kategori yang di sebutkan di atas.

            Selanjutnya, kalo semua empat kategori pemilahan sampah tadi berjalan dengan lancar maka sampah yang dibuang hanya 25% nya saja, jadi kita sudah ikut serta menyelamatkan dunia dari bahaya-bahaya yang merugikan masyarakat. Empat ktegori pemilahan sampah itu sudah dirumuskan menjadi sebuah modul dan sudah diterapakan keberbagai tempat sejak tahun 2007. Namun kebanyakan masyarakat tidak pernah berfikir bahwa hal yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat, dengan pemanfaatan limbah tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga orang-orang yang pengangguran dapat bekerja walaupun bukan pekerja tetap.

Diharapkan masyarakat mampu mengelola sampah sesuai dengan kategori yang telah disebutkan di atas. Sehingga masyarakat mampu membuka lapangan pekerjaan dan setidaknya mengurangi sedikit pengangguran, karena di indonesia banyak sekali pengangguran disebabkan minimnya lapangan pekerjaan.

            Semoga dengan adanya pemanfaatan limbah ini dunia dapat terselamatkan dari berbagai bahaya yang dapat merenggut nyawa masyarakat dunia. Amiem-amien ya robbal ‘alamien.
           
            

2 komentar:

  1. hm.. bgus neee... bisa juga sosiopreunership hehe... nambah ide, buat aja sekolah sampah hehe... spp dengan sampah.. dari sampah bisa membiayai skolah dan sterusnya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hemmm sekalian aja buka lapangan pekerjaan heheh

      Hapus